And the Journey begins.......

The blog is firstly dedicated to all women in the world - girls, young women, adult women, elderly women. It also records my personal experience, daily, as a woman, a daughter, a wife, a mother and also a medical doctor. This blog also tries to capture all my thinking around women's health and gender issues related to health, sexuality, reproductive health and reproductive rights of women living in the world of male-dominated society. You are welcome to enjoy this journey

Pindah ke lain hati….eh ke lain blog (http://mercysoumokil.wordpress.com)

Filed under Women's Health by Mercy on 26-11-2010

Setelah sekian lama mengambil ancang2 dan menyiapkan hati untuk berpindah ke wordpress…akhirnya keputusan itu dibuat sudah. maaf buat penggemar blog.com, tapi menurutku wordpress.com menyediakan fitur-fitur yang lebih mudah dipahami oleh diriku (yang most of the time, gaptek!) dan beberapa fitur menarik yang tidak kutemukan di blog.com (mungkin juga karena ke-gaptek-an ku tadi).
So, here I announce that I moved out to other websites called mercysoumokil.wordpress.com.
Please come and visit this blog.

Thank you

Aku Perempuan, bukan Wanita

Filed under Women's Health by Mercy on 23-11-2010

sejak kecil papi mamiku selalu menggunakan kata ‘anak perempuan’ ketika merujuk diriku atau adikku. Walaupun kata ini kemudian selalu dikaitkan dengan stereotype dan peran yang harus diemban oleh perempuan ‘ideal’ menurut kriteria mereka, tapi tetap saja hal tersebut sudah membuatku mengidentifikasikan diriku sebagai seorang PEREMPUAN
Ketika aku beranjak dewasa, mulailah kata Wanita diperkenalkan oleh lingkunganku…mulai dari pelajaran sekolah, bacaan majalah dan koran, sampai percakapan bersama orang-orang lain diluar rumah. Kata tersebut terasa asing di telingaku……wanita…….. Sebuah identitas yang jauh dari yang aku rasakan, apalagi kemudian kata ini selalu dikait-kaitkan dengan wacana hegemonik dari orde baru, untuk mereduksi peran perempuan menjadi peran “wanita” yang terhormat dengan peran sosial yang mengikutinya. Entah mengapa, kata “wanita” menjadi semacam identitas yang selalu kuhindari. Aku lebih memilih menjadi perempuan, walaupun dalam hegemoni ibu-isme orde baru, kata ‘perempuan’ menjadi sangat termarjinalkan (jadi ingat Dharma Wanita dan teman-temannya)

Bahkan sebelum aku memutuskan untuk menjadi seorang feminis…aku sudah memilih untuk menjadi perempuan

BUKAN Wanita

Why smart women hang on to the love that they believe it will never be theirs?

Filed under Women's Health by Mercy on 16-11-2010

Ah, ada kasus menarik yang ingin kubagi…..

Baru-baru ini aku mengenal seorang perempuan pintar dan cantik, kita sebut saja namanya Tina. Sebelum kita berkenalan resmi, aku sudah sering mendengar nama perempuan pintar nan cantik ini. Aku mendengar tentang dia dari salah satu sahabatku.

Yang aku tahu selama ini, Tina adalah seorang perempuan yang sangat aktif, bahkan sejak dari jaman mahasiswa. Tina aktif menulis dan terlibat dalam beberapa organisasi mahasiswa. Saat inipun, Tina bekerja di sebuah perusahaan asing yang sangat terkenal, di tingkat middle management. Segala yang ada pada Tina akan membuat perempuan lain merasa iri. Aku pun begitu, pada awalnya. Akan tetapi, setelah mengenal Tina lebih dekat dan terlebih ketika Tina mulai menjadi salah satu klien-ku, kala dia perlu menceritakan apa yang dia rasakan dan dia pikirkan

Dibalik segala indahnya kehidupan Tina, ternyata dia menyimpan luka yang sangat dalam. Suaminya, adalah lelaki yang sangat dicintainya tapi juga orang yang selama ini menorehkan luka dihatinya. Sejak jaman kuliah semester I, Tina sudah sangat menyukai sang suami yang kebetulan kakak kelasnya pada saat itu. Dia senang melihat kakak kelasnya tersebut dan senang berdiskusi dengannya. Sang kakak kelas terlihat sangat ‘smart’ dimatanya. Sayang sekali, pada saat itu Sang kakak kelas sudah punya kekasih yang sangat dicintainya selama beberapa tahun terakhir. Menurut Tina, dia tahu dan bisa melihat dengan jelas, betapa sang kakak kelas mencintai sang kekasih, hal ini dibuktikan dengan berkali-kali sang kakak kelas dan si kekasih putus-sambung yang terutama disebabkan oleh ulah kekasih kakak kelas (hmmm now it sounds more familiar to me hiiiks)…… Tetapi, putus tak berapa lama, begitu sang kekasih minta untuk kembali sang kakak kelaspun segera berlari kepelukan sang kekasih. Selama tahun kuliahnya, Tina harus menyaksikan ini berkali-kali. Betapapun dia berusaha untuk menunjukkan pada sang kakak kelas bahwa dia akan selalu ada disisi sang kakak kelas, tapi Tina merasa tidak akan bisa menyaingi sang kekasih yang selalu membuat sang kakak kelas berlari kembali ke pelukannya. Ada masa-masa ketika sang kakak kelas sedang putus dengan sang kekasih, Tina pun menjadi ‘a shoulder to cry on’ bagi sang kakak kelas; Tina merasa bahagia, walaupun ternyata hanya sesaat, karena tak berapa lama kemudian, sang kakak kelas akan kembali menyambung tali kasih dengan sang kekasih. Tina tetap setia menanti sang kakak kelas, karena dia yakin cinta antara sang kakak kelas dan sang kekasih tak akan mampu bertahan melewati perbedaan yang begitu dalam (sounds moreeee familiar to me!).

Sampailah pada suatu saat, Tina pun mendengar kabar gembira, sang kekasih kakak kelas  telah menikah dengan orang lain…..dengan tangan terbuka Tina menerima sang kakak kelas yang sedang berdarah-darah ….(sorry agak lebay, soalnya waktu bercerita juga lebay banget dah!). Perlahan tapi pasti, Tina mencoba untuk mengobati luka sang kakak kelas dan memberikan perhatian serta dukungan agar sang kakak kelas kembali berdiri diatas dua kakinya. Saat itu, Tina sudah lulus dari bangku kuliah dan bekerja. Perlahan tapi pasti, Tina dan sang kakak kelas membangun hubungan yang mereka harapkan untuk bisa berlanjut ke jenjang pelaminan. Ada banyak ragu dihati Tina, terutama mengenai apakah sang kakak kelas telah benar-benar memilihnya dan melupakan masa lalu bersama sang kekasih, ataukah dia selamanya hanya akan menjadi pilihan kedua – yang tak akan pernah bisa menggantikan sang kekasih dihati sang kakak kelas. Ah, tapi biarpun keraguan itu ada, Tina pun memutuskan untuk try it out. Sudah kepalang basah, dia sudah terlalu lama menunggu dengan sabar agar sang kakak kelas bisa berpaling pada dirinya… dan ketika sang ‘pesaing’ sudah tidak ada lagi, mengapa takut untuk mencoba. Toh ada pepatah Jawa yang bilang “witing tresno jalaran seko kulino” (bukan jalaran ora ono sing liyo yaa heheheh), cinta bisa tumbuh perlahan-lahan.

Akhirnya setelah beberapa tahun menjalin kasih dengan sang kakak kelas, merekapun menikah. Pfuiii…..what a brave woman! Well, tahun-tahun pertama bisa mereka lalui setidaknya dengan damai,  walaupun keraguan penuh tanda tanya ada dihati Tina, benarkah aku satu-satunya? sudahkan dia melupakan sang kekasih?. Tahun-tahun berikutnya, keraguan Tina semakin meningkat, walaupun sang suami (was kakak kelas) tidak menunjukkan gejala apapun yang mengindikasikan bahwa dia masih mengingat sang kekasih dimasa lampau. Ditengah hiruk pikuknya Tina mengejar karier yang dia inginkan, pertanyaan ini selalu ada tersimpan dilubuk hati yang paling jauh, meskipun demikian Tina tidak pernah menanyakan hal tersebut kepada sang suami langsung.

Sungguh tak disangka, pada suatu hari yang tenang, sang suami pun mengajaknya untuk berbincang. Bagaikan petir disiang bolong, sang suami mengaku bahwa tahun-tahun terakhir ini dia kembali menjalin kontak dengan sang kekasih… bahkan mereka masih sering email-email-an ataupun saling sms/telp. Tina menangis…Tina menjerit….Tina merasa dunia menjadi gelap. Hal yang paling ditakutkan dalam hatinya terjawablah sudah. Sang suami tidak akan mampu melupakan kekasih masa lalunya; tak tergantikan. Walaupun di sore itu, sang suami mengatakan bahwa sudah taka ada rasa lagi antara dirinya dan sang kekasih, semuanya itu sudah berlalu, kali ini benar-benar berlalu…Tina merasa seperti mengalami de-javu, sesuatu yang selalu berulang dalam belasan tahun terakhir ini; janji yang tak pernah bisa ditepati, janji untuk melupakan masa lalu dan hidup pada masa kini. Kali ini, hati Tina yang sudah mulai sembuh dari luka lama akibat ulah sang kakak kelas, kembali tertoreh dan berdarah ulang. Ketakutan menjadi kenyataan; dirinya selalu akan menjadi yang kedua bagi sang suami, pilihan yang diambil karena pilihan utama tak mampu diraihnya. Tina ingin teriak. Tapi semua orang disekitarnya yang diajaknya berdiskusi, paling mengatakan bahwa ‘well, toh tidak terjadi apa-apa antara suamimu dan sang mantan, mereka toh hanya email-emailan/sms-smsan, maafkan saja. Lagipula suamimu kan sudah berjanji akan melupakan masa lalunya dan memfokuskan dirinya untuk mencintai dirimu selamanya’.  Ah, suatu respon yang klise dan sangat superfisial. Tina bertambah bingung, karena disatu pihak dia merasa terluka dan tersakiti lebih karena ketakutannya kemudian ternyata menjadi nyata, tetapi dipihak lain, dia merasa sudah melangkah sejauh ini bersama sang suami… pantang rasanya menyerah. Akhirnya, ini pun yang membawa Tina datang kepada diriku dan menceritakan kehidupannya. Aku bisa melihat luka yang mendalam, banyaknya pertanyaan yang tak terjawab, thousands of efforts to forgive yet it is obviously so hard to forget (especially if it happens so many times)………… To be honest, pada saat Tina bercerita bagian saat si suami mengaku masih kontak dengan mantan kekasihnya – pada  diriku, aku ingin sekali merespons  dengan berteriak “ Hey Honey, WAKE UP!! Can’t you see it…He’s just not in to you!! – just like the movie” tapi berhubung dia klien, maka aku pun mencoba merespons seperti selayaknya seorang konselor. Pertanyaanku lebih kepada apa yang dia rasakan dengan situasi sekarang ini. Aku masih melihat adanya keraguan untuk melangkah ke depan, terutama keraguan untuk mengetahui langkah apa saja yang bisa dia lakukan terkait relasinya dengan sang suami. Memaafkan dengan setulus hati, adalah sesuatu hal yang sulit bagi Tina, karena sang suami sudah berulang kali melakukan ini, sejak mereka belum pacaran, sudah pacaran, bahkan sampai pernikahannya. Tina merasa selama ini hidup dalam bayang-bayang sang mantan kekasih – sesuatu yang tidak akan bisa dia hilangkan dari pikiran sang suami, sebaik apapun dan sekuat apapun dia mencoba menggantikannya. Wow, sebenarnya dengan pengakuan ini, Tina sudah tahu apa yang bisa dia lakukan. Buat apa hidup dalam  bayang-bayang orang lain, dan hidup dalam bayangan selalu menjadi yang kedua, disaat kita sendiri adalah seorang perempuan pintar dan pasti akan selalu bisa bertahan ketika hidup sendirian. Saat ini pun kami masih asik berdiskusi tentang kehidupan, tentang pilihan-pilihan, tapi yang pasti, jalan yang akan Tina tempuh adalah jalan yang akan dia tentukan sendiri, dari alternatif pilihan-pilihan yang akan dia temukan sendiri. I believe her smartness

Ah, memang kisah yang menarik…….I will never be like Tina, poor her….always be living under the thoughts and beliefs that she is the second inline….. How many smart women outthere are living like Tina, I wonder. Well, one think for sure, if you have lived with a man for a couple of years and you have given all the best of you for him, yet he never forgets his ex-lover, you might better quit now, because he shall never forget her…………….in this life

*kesamaan nama pelaku ataupun peristiwa adalah ketiadasengajaan belaka.

….one of kla’s song….

Filed under Women's Health by Mercy on 10-11-2010

Bantu aku, lari dari bayangmu

hasrat melupakanmu……

usah lagi, senyum sapa-mu mengganggu, Engkau bukan untukku :-(

Merapi ooh merapi

Filed under Women's Health by Mercy on 10-11-2010

Terbangun pagi itu karena bunyi sms masuk di mobile phone ku. Tiiititiiiiiit….. dengan malas hati ku berdiri dari ranjang dan mendekati hape yang ada diatas meja rias kamar hotel. Hmmm…ada sms dari teman di Jogja, yang mengatakan bahwa dia tidak akan bisa memfasilitasi lokakarya di Mataram yang akan mulai hari senin (which is 3 days away) karena saat ini lokasi penggusuran warga diperluas sampai 20km dari puncak Merapi. RUmahnya ada di km 19.2 dari puncak merapi berdasarkan informasi google earth (hikkks, jaman yang modern). Pagi-pagi dia harus membawa kedua anaknya ke rumah saudara di tempat yang lebih aman.
Aku pun segera membalas, tidak masalah karena tentunya berada bersama anak dalam situasi pengungsian akan menjadi prioritas utama buat semua orang tua, dan pekerjaan pun perlu menyesuaikan dengan keadaan tersebut.

Well, setelah terima sms tersebut, aku pun segera bergegas ke kantor. Berencana untuk segera mulai menyusun strategi agar lokakarya mataram tetap berjalan dengan baik, walaupun hanya dengan dua orang fasilitator. Akan tetapi apa lacur, pagi itu ada rapat staf sampai siang hari, berhubung sang program manager sedang ada di Bali. Pfuiiiii…..terpaksa menunda lagi untuk mulai menyiapkan strategi lokakarya. Dalam benakku, oke nanti setelah makan siang aku mulai bisa memikirkan strategi tersebut.

Makan siang yang cukup panjang aku jalani bersama kolega di kantor….kami pergi ke salah satu RM ala Sunda di Denpasar dan waktu pun dihabiskan untuk mengobrol ngalor-ngidul, update kabar dan update fitnah juga hehehe. Yeap, kesempatan seperti ini jarang sekali kami bisa lakukan, terutama sejak diriku mesti pindah ke Jakarta ;-)

Sesampai di kantor, dua program officer-ku sudah mengantri untuk membahas program yang mereka kerjakan. Program pertama, masih soal membangun respons HIV yang komprehensif – tapi kali ini kita membahas soal rencana penelitian Stigma terhadap HIV di layanan kesehatan. Mulai dari membahas pertanyaan yang ingin dijawab oleh penelitian ini (study questions) sampai ke methodology dan peserta studi. Ternyata pembahasan itupun memakan waktu cukup lama; kami ternyata juga perlu membahas soal rencana studi yang lain terkait pemetaan kesehatan seksual dan reproduksi serta layanan yang ada di Bali. OOOOOOH….my day was such a disaster; sampai sore hari, akupun belum bisa juga memikirkan soal apa yang perlu dilakukan di Mataram terkait berkurangnya satu fasilitator. Belum lagi, satu PO-ku masih mengantri untuk membahas soal program kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi remaja, yang baru akan dimulai aktifitasnya bulan November ini. Ah, akhirnya akupun memutuskan untuk menghentikan hari, dan menunda (LAGI) semua pekerjaan yang mesti daku selesaikan sampai ke esokan harinya…..

kembali ke hotel, dengan perasaan campur aduk, bingung, pusing dsbnya….oooh Merapi, kau membuat diriku jadi tak berdaya (and I was not even anywhere around Merapi!!)

Subscribe to RSS Feed Rss