Ah, ada kasus menarik yang ingin kubagi…..
Baru-baru ini aku mengenal seorang perempuan pintar dan cantik, kita sebut saja namanya Tina. Sebelum kita berkenalan resmi, aku sudah sering mendengar nama perempuan pintar nan cantik ini. Aku mendengar tentang dia dari salah satu sahabatku.
Yang aku tahu selama ini, Tina adalah seorang perempuan yang sangat aktif, bahkan sejak dari jaman mahasiswa. Tina aktif menulis dan terlibat dalam beberapa organisasi mahasiswa. Saat inipun, Tina bekerja di sebuah perusahaan asing yang sangat terkenal, di tingkat middle management. Segala yang ada pada Tina akan membuat perempuan lain merasa iri. Aku pun begitu, pada awalnya. Akan tetapi, setelah mengenal Tina lebih dekat dan terlebih ketika Tina mulai menjadi salah satu klien-ku, kala dia perlu menceritakan apa yang dia rasakan dan dia pikirkan
Dibalik segala indahnya kehidupan Tina, ternyata dia menyimpan luka yang sangat dalam. Suaminya, adalah lelaki yang sangat dicintainya tapi juga orang yang selama ini menorehkan luka dihatinya. Sejak jaman kuliah semester I, Tina sudah sangat menyukai sang suami yang kebetulan kakak kelasnya pada saat itu. Dia senang melihat kakak kelasnya tersebut dan senang berdiskusi dengannya. Sang kakak kelas terlihat sangat ‘smart’ dimatanya. Sayang sekali, pada saat itu Sang kakak kelas sudah punya kekasih yang sangat dicintainya selama beberapa tahun terakhir. Menurut Tina, dia tahu dan bisa melihat dengan jelas, betapa sang kakak kelas mencintai sang kekasih, hal ini dibuktikan dengan berkali-kali sang kakak kelas dan si kekasih putus-sambung yang terutama disebabkan oleh ulah kekasih kakak kelas (hmmm now it sounds more familiar to me hiiiks)…… Tetapi, putus tak berapa lama, begitu sang kekasih minta untuk kembali sang kakak kelaspun segera berlari kepelukan sang kekasih. Selama tahun kuliahnya, Tina harus menyaksikan ini berkali-kali. Betapapun dia berusaha untuk menunjukkan pada sang kakak kelas bahwa dia akan selalu ada disisi sang kakak kelas, tapi Tina merasa tidak akan bisa menyaingi sang kekasih yang selalu membuat sang kakak kelas berlari kembali ke pelukannya. Ada masa-masa ketika sang kakak kelas sedang putus dengan sang kekasih, Tina pun menjadi ‘a shoulder to cry on’ bagi sang kakak kelas; Tina merasa bahagia, walaupun ternyata hanya sesaat, karena tak berapa lama kemudian, sang kakak kelas akan kembali menyambung tali kasih dengan sang kekasih. Tina tetap setia menanti sang kakak kelas, karena dia yakin cinta antara sang kakak kelas dan sang kekasih tak akan mampu bertahan melewati perbedaan yang begitu dalam (sounds moreeee familiar to me!).
Sampailah pada suatu saat, Tina pun mendengar kabar gembira, sang kekasih kakak kelas telah menikah dengan orang lain…..dengan tangan terbuka Tina menerima sang kakak kelas yang sedang berdarah-darah ….(sorry agak lebay, soalnya waktu bercerita juga lebay banget dah!). Perlahan tapi pasti, Tina mencoba untuk mengobati luka sang kakak kelas dan memberikan perhatian serta dukungan agar sang kakak kelas kembali berdiri diatas dua kakinya. Saat itu, Tina sudah lulus dari bangku kuliah dan bekerja. Perlahan tapi pasti, Tina dan sang kakak kelas membangun hubungan yang mereka harapkan untuk bisa berlanjut ke jenjang pelaminan. Ada banyak ragu dihati Tina, terutama mengenai apakah sang kakak kelas telah benar-benar memilihnya dan melupakan masa lalu bersama sang kekasih, ataukah dia selamanya hanya akan menjadi pilihan kedua – yang tak akan pernah bisa menggantikan sang kekasih dihati sang kakak kelas. Ah, tapi biarpun keraguan itu ada, Tina pun memutuskan untuk try it out. Sudah kepalang basah, dia sudah terlalu lama menunggu dengan sabar agar sang kakak kelas bisa berpaling pada dirinya… dan ketika sang ‘pesaing’ sudah tidak ada lagi, mengapa takut untuk mencoba. Toh ada pepatah Jawa yang bilang “witing tresno jalaran seko kulino” (bukan jalaran ora ono sing liyo yaa heheheh), cinta bisa tumbuh perlahan-lahan.
Akhirnya setelah beberapa tahun menjalin kasih dengan sang kakak kelas, merekapun menikah. Pfuiii…..what a brave woman! Well, tahun-tahun pertama bisa mereka lalui setidaknya dengan damai, walaupun keraguan penuh tanda tanya ada dihati Tina, benarkah aku satu-satunya? sudahkan dia melupakan sang kekasih?. Tahun-tahun berikutnya, keraguan Tina semakin meningkat, walaupun sang suami (was kakak kelas) tidak menunjukkan gejala apapun yang mengindikasikan bahwa dia masih mengingat sang kekasih dimasa lampau. Ditengah hiruk pikuknya Tina mengejar karier yang dia inginkan, pertanyaan ini selalu ada tersimpan dilubuk hati yang paling jauh, meskipun demikian Tina tidak pernah menanyakan hal tersebut kepada sang suami langsung.
Sungguh tak disangka, pada suatu hari yang tenang, sang suami pun mengajaknya untuk berbincang. Bagaikan petir disiang bolong, sang suami mengaku bahwa tahun-tahun terakhir ini dia kembali menjalin kontak dengan sang kekasih… bahkan mereka masih sering email-email-an ataupun saling sms/telp. Tina menangis…Tina menjerit….Tina merasa dunia menjadi gelap. Hal yang paling ditakutkan dalam hatinya terjawablah sudah. Sang suami tidak akan mampu melupakan kekasih masa lalunya; tak tergantikan. Walaupun di sore itu, sang suami mengatakan bahwa sudah taka ada rasa lagi antara dirinya dan sang kekasih, semuanya itu sudah berlalu, kali ini benar-benar berlalu…Tina merasa seperti mengalami de-javu, sesuatu yang selalu berulang dalam belasan tahun terakhir ini; janji yang tak pernah bisa ditepati, janji untuk melupakan masa lalu dan hidup pada masa kini. Kali ini, hati Tina yang sudah mulai sembuh dari luka lama akibat ulah sang kakak kelas, kembali tertoreh dan berdarah ulang. Ketakutan menjadi kenyataan; dirinya selalu akan menjadi yang kedua bagi sang suami, pilihan yang diambil karena pilihan utama tak mampu diraihnya. Tina ingin teriak. Tapi semua orang disekitarnya yang diajaknya berdiskusi, paling mengatakan bahwa ‘well, toh tidak terjadi apa-apa antara suamimu dan sang mantan, mereka toh hanya email-emailan/sms-smsan, maafkan saja. Lagipula suamimu kan sudah berjanji akan melupakan masa lalunya dan memfokuskan dirinya untuk mencintai dirimu selamanya’. Ah, suatu respon yang klise dan sangat superfisial. Tina bertambah bingung, karena disatu pihak dia merasa terluka dan tersakiti lebih karena ketakutannya kemudian ternyata menjadi nyata, tetapi dipihak lain, dia merasa sudah melangkah sejauh ini bersama sang suami… pantang rasanya menyerah. Akhirnya, ini pun yang membawa Tina datang kepada diriku dan menceritakan kehidupannya. Aku bisa melihat luka yang mendalam, banyaknya pertanyaan yang tak terjawab, thousands of efforts to forgive yet it is obviously so hard to forget (especially if it happens so many times)………… To be honest, pada saat Tina bercerita bagian saat si suami mengaku masih kontak dengan mantan kekasihnya – pada diriku, aku ingin sekali merespons dengan berteriak “ Hey Honey, WAKE UP!! Can’t you see it…He’s just not in to you!! – just like the movie” tapi berhubung dia klien, maka aku pun mencoba merespons seperti selayaknya seorang konselor. Pertanyaanku lebih kepada apa yang dia rasakan dengan situasi sekarang ini. Aku masih melihat adanya keraguan untuk melangkah ke depan, terutama keraguan untuk mengetahui langkah apa saja yang bisa dia lakukan terkait relasinya dengan sang suami. Memaafkan dengan setulus hati, adalah sesuatu hal yang sulit bagi Tina, karena sang suami sudah berulang kali melakukan ini, sejak mereka belum pacaran, sudah pacaran, bahkan sampai pernikahannya. Tina merasa selama ini hidup dalam bayang-bayang sang mantan kekasih – sesuatu yang tidak akan bisa dia hilangkan dari pikiran sang suami, sebaik apapun dan sekuat apapun dia mencoba menggantikannya. Wow, sebenarnya dengan pengakuan ini, Tina sudah tahu apa yang bisa dia lakukan. Buat apa hidup dalam bayang-bayang orang lain, dan hidup dalam bayangan selalu menjadi yang kedua, disaat kita sendiri adalah seorang perempuan pintar dan pasti akan selalu bisa bertahan ketika hidup sendirian. Saat ini pun kami masih asik berdiskusi tentang kehidupan, tentang pilihan-pilihan, tapi yang pasti, jalan yang akan Tina tempuh adalah jalan yang akan dia tentukan sendiri, dari alternatif pilihan-pilihan yang akan dia temukan sendiri. I believe her smartness
Ah, memang kisah yang menarik…….I will never be like Tina, poor her….always be living under the thoughts and beliefs that she is the second inline….. How many smart women outthere are living like Tina, I wonder. Well, one think for sure, if you have lived with a man for a couple of years and you have given all the best of you for him, yet he never forgets his ex-lover, you might better quit now, because he shall never forget her…………….in this life
*kesamaan nama pelaku ataupun peristiwa adalah ketiadasengajaan belaka.